Cinta Beda Agama? Bolehkah?

Gambar
“Kekuatan cinta mampu menaklukkan segalanya.” Slogan tersebut kerap melekat pada objek abstrak bernama cinta. Dan aku   yakin slogan tersebut bukan hal yang asing lagi di telinga kita. Karena slogan tersebut sering digembar-gemborkan media mulai dari lagu, cerita, dan film terutama.menurut kamu, berapa banyak cerita yang mengisahkan persatuan dua insan yang dipisahkan oleh tembok keterbatasan? Mulai dari beda kasta sosial, beda tingkat ekonomi, beda negara, beda suku, tanpa terkecuali beda agama. Perbedaan kasta sosial dan tingkat ekonomi bisa dipertipis jaraknya dengan berusaha menempuh pendidikan yang tinggi, sehingga bisa menghasilkan harta yang lebih banyak dan menjalin networking yang lebih luas. Perbedaan negara, tidak menjadi masalah yang berarti jika kamu bisa fasih berbahasa asing dan jika memang kamu menyukai travelling. Perbedaan suku, mengingat sudah banyaknya hubungan silang antarsuku, maka kendala ini tidak menjadi tembok penghalang yang begitu besar. Walaupun imp...

Cinta Beda Usia?


Cinta datang begitu saja, tanpa sempat kita bertanya berapa umur si dia. Lalu, kitapun terjebak dilema ketika ternyata si dia juga memendam rasa yang sama, bahkan berharap dapat bersama. Pria yang lebih tua dengan wanita yang lebih muda mungkin tidak begitu menyita perhatian, lantaran sudah kadung dianggap lazim. Walaupun segelintir cerita miringpun tetap saja bergulir, lantaran hubungan jarak usia yang terpaut cukup jauh (Age Gap Relationship).

Namun, beda ceritanya jika si wanita yang jauh lebih tua daripada si pria. Akan begitu banyak variasi persepsi negatif yang lahir dari hubungan mereka. Hal tersebut mungkin imbas dari doktrin umum yang mengakar dalam tatanan sosial bahwa pria hendaknya lebih matang daripada wanita. Lantas, apakah salah, jika menjalani hubungan cinta beda usia?


Nah, bagi kamu wanita yang memutuskan untuk mengikatkan diri dalam asmara bersama pria yang jauh lebih muda, Hal pertama yang muncul dalam benakmu adalah: Dia serius gak sih? Sangat wajar jika kamu berpikiran seperti ini. Mengingat jarak usia kalian yang jauh. Dia pasti juga dikelilingi oleh wanita-wanita yang seumuran dengannya, atau bahkan lebih muda. Hal itulah yang menjadi tanda tanya besar bagimu. Kamu dibuat tak habis pikir mengapa dia justru memilihmu. Yah, namanya juga cinta, yang datang tiba-tiba dan tak terduga. Kamupun begitu. Mengapa malah terpikat padanya yang bahkan rekan-rekan seusiamu pun tak kalah menggoda.

Di usiamu yang sudah cukup matang, kamu mencari hubungan yang pasti-pasti saja. Sementara dia masih terkesan ingin ‘mencoba-coba’. Inipun sangat wajar. Sebab kamu sudah terlalu lelah menjalani hubungan putus-nyambung karena emosi sesaat yang tidak terkontrol. Kamu lebih memilih untuk berada dalam hubungan yang stabil, dengan level kepastian yang tinggi. Kamu sudah kadung jengah dengan kata-kata semata, yang kamu butuhkan adalah bukti nyata. Dalam setiap hubungan tentu akan ada drama. Tapi kamu mengharapkan akan minim drama di usiamu yang sekarang.

Singkatnya, jika dia memang berniat serius denganmu, dia harus siap ‘berlari lebih kencang untuk menuju posisimu’, dan kamupun tentu rela mendampingi jatuh-bangunnya. Kamu sadar bahwa ini semua adalah demi kita.

Tak bisa dipungkiri juga, usia reproduktifmu pun menjadi momok yang membuatmu resah. Kamu jelas sadar bahwa tidak mungkin menunggunya sekian tahun lagi hingga dia benar matang untuk meminangmu. Siapa sih yang tidak ingin menimang bayi-bayi lucu? Kamupun begitu, apalagi di usiamu yang sudah cukup matang untuk berumah tangga. Ditambah lagi, pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan yang rutin dilayangkan oleh orangtuamu dan undangan-undangan pernikahan dari satu per satu temanmu.

Namun, hal tersebut tentu tidak sesederhana itu jika pasanganmu adalah pria yang jauh lebih muda. Misal, kamu yang sudah mapan, pendidikanpun sudah aman, sedangkan dia masih harus menyelesaikan sekian puluh SKS lagi, lalu wisuda, mencari kerja, dan (Akhirnya) melamarmu.

Di satu sisi, kamu tidak mau menuntutnya karena kamupun sadar pernikahan bukanlah perkara sepele. Kamupun tidak mau dia menikahimu karena terpaksa. Kamupun memiliki harapan akan pernikahan yang memang didasari dari keinginan masing-masing, bukan terdesak karena satu pihak.

Tapi di sisi lain, kamu juga resah dengan rahimmu yang mungkin akan kehilangan fungsi maksimalnya jika dia terlalu lama membuatmu menunggu. Walaupun kamu sadar dan sepenuhnya mengerti alasannya membuatmu menunggu sekian lama. Di sanalah kamu dan dia harus benar-benar berkompromi mengenai hal yang level seriusnya sudah tidak bisa dibawa santai tersebut.

Hal itu bukan lagi tentang siapa yang harus mengalah. Bukan tentang kamu yang harus rela mengorbankan tingkat fertilitasmu yang akan menurun jika menantinya. Bukan pula dia yang harus mengorbankan masa awal 20-annya lengkap dengan pola pikir dan sikap untuk lebih dewasa beberapa tahun dari umur aslinya, demi membina biduk rumah tangga denganmu.

 

Kalianpun harus ekstra bijak untuk mencari jalan tengah akibat selisih usia tersebut. Ketika kalian harus sama-sama mengalah, wajar jika hal ini terasa seperti momok menakutkan baginya. Kamu harus ekstra siap dengan segala konsekuensi pasca-nikah. Lantaran ini bukan hal mudah bagi seorang pria (Dalam hati terdalamnya, dia mungkin belum sepenuhnya siap menjadi seorang kepala keluarga). Di sanalah peranmu untuk menguatkannya selain meredam egomu untuk tidak berharap muluk pada pasanganmu yang lebih muda.

Bahkan persepsi negatif juga sempat menjalar dalam kepalamu, atau jangan-jangan dia cuma manfaatin duit kamu aja? Nah, karena lebih dulu lahir darinya, wajar jika kamu lebih dulu wisuda dan mendapat panggilan kerja. Sementara dia masih harus berjuang dengan tugas-tugas kuliahnya, atau bahkan PR di sekolahnya. Kamu sudah mampu menghidupi dirimu sendiri dengan pundi-pundi yang mengalir setiap bulan. Sedangkan dia masih menampungkan tangan pada uang saku dari orangtuanya.

Ini memang fakta yang pahit, jika terkadang kamu akan merogoh sekian rupiahmu untuknya. Yah, karena kondisi finansialnya belum setangguh kamu, dia masih sedang dalam proses untuk meraih sukses yang telah kamu lalui beberapa tahun lalu.

Kamu mungkin mudah membelikannya kemeja branded yang kelak dapat dipakainya saat kuliah. Namun, dia membutuhkan waktu dan usaha lebih untuk menghemat uang jajannya, demi sekadar membeli kado ulang tahunmu yang mungkin nominalnya tidaklah seberapa bagi dompetmu.

Walaupun begitu, tetap saja pemberiannya terasa begitu bermakna. Bukan tentang harga, tapi ada ketulusan di dalamnya. Duh, makin cinta deh!

Kamu harus banget ekstra sabar meladeni emosi dia yang kadang masih meletup-letup. Yah, namanya masih labil.


Dia mungkin belum mengerti bagaimana stresnya ketika deadline pekerjaanmu semakin dekat, ketika klien membuat ulah, atau bahkan ketika atasanmu menegurmu, dia tidak paham bagaimana down-nya kamu. Sehingga sedikit-banyak berdampak pada responmu membalas chat-nya. Dia hanya tahu bahwa ia diacuhkan pacarnya. Lalu ngambek tak jelas yang akan menambah beban pikiranmu.

Beda ceritanya ketika dia tidak mengangkat teleponmu dengan alasan main futsal, tugas pribadi yang dikerjakan berjamaah hingga dini hari, dan hal-hal lazim lain yang dulu kamu rasakan ketika berada di posisinya sebagai anak kuliahan. Kamu pada akhirnya mengerti karena dulu begitu juga. Tapi, sayangnya dia tidak mengerti bagaimana sadisnya dunia kerja, sementara kamu sudah paham bagaimana rasanya menjadi dia dulu.

Dia mungkin tampak begitu santai, padahal hatinya berkecamuk. Ada ketakutan yang tak terucapkan apabila kamu lelah dengan labilnya dan berpaling pada pria yang lebih matang. Dia tidak ingin melepasmu, tapi dia juga tidak ingin membuatmu menderita lebih lama dengannyaBegitupun denganmu, kamu yang kadang tampak mendominasi baginya atau justru terkesan menyerah pada keadaan, padahal itu adalah bentuk kepedulianmu terhadap kelangsungan hubungan kalian.

Kalian memang tak seusia, tapi bukan berarti kalian tak sesuai. Cinta beda usia tetap saja memiliki peluang untuk melahirkan kenyamanan. Karena nyaman bukan soal usia tapi hati. Kalian akan belajar untuk lebih saling memahami. Kamu belajar untuk lebih santai menyikapi hidup, sedangkan dia belajar lebih serius menjalani hari demi masa depan. Karena tak bisa disangkal pula, jarak usia memang memiliki peranan besar. Yah, walaupun pada akhirnya Tuhan yang punya kuasa, setidaknya kalian telah berusaha memperjuangkan cinta beda usia.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saat usia menginjak hampir 30, dimana jodohku?

Cinta Beda Agama? Bolehkah?