Cinta Beda Usia?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Cinta datang begitu saja, tanpa sempat kita bertanya
berapa umur si dia. Lalu, kitapun terjebak dilema ketika ternyata si dia juga
memendam rasa yang sama, bahkan berharap dapat bersama. Pria yang lebih tua
dengan wanita yang lebih muda mungkin tidak begitu menyita perhatian, lantaran
sudah kadung dianggap lazim. Walaupun segelintir cerita miringpun tetap saja
bergulir, lantaran hubungan jarak usia yang terpaut cukup jauh (Age Gap Relationship).
Namun, beda ceritanya
jika si wanita yang jauh lebih tua daripada si pria. Akan begitu banyak variasi
persepsi negatif yang lahir dari hubungan mereka. Hal tersebut mungkin imbas
dari doktrin umum yang mengakar dalam tatanan sosial bahwa pria hendaknya lebih
matang daripada wanita. Lantas, apakah salah, jika menjalani hubungan
cinta beda usia?
Nah, bagi kamu wanita yang memutuskan untuk mengikatkan diri dalam asmara bersama pria yang jauh lebih muda, Hal pertama yang muncul dalam benakmu adalah: Dia serius gak sih? Sangat wajar jika kamu berpikiran seperti ini. Mengingat jarak usia kalian yang jauh. Dia pasti juga dikelilingi oleh wanita-wanita yang seumuran dengannya, atau bahkan lebih muda. Hal itulah yang menjadi tanda tanya besar bagimu. Kamu dibuat tak habis pikir mengapa dia justru memilihmu. Yah, namanya juga cinta, yang datang tiba-tiba dan tak terduga. Kamupun begitu. Mengapa malah terpikat padanya yang bahkan rekan-rekan seusiamu pun tak kalah menggoda.
Di usiamu yang sudah cukup matang, kamu
mencari hubungan yang pasti-pasti saja. Sementara dia masih terkesan ingin
‘mencoba-coba’. Inipun sangat wajar.
Sebab kamu sudah terlalu lelah menjalani hubungan putus-nyambung karena emosi
sesaat yang tidak terkontrol. Kamu lebih memilih untuk berada dalam hubungan
yang stabil, dengan level kepastian yang tinggi. Kamu sudah kadung jengah
dengan kata-kata semata, yang kamu butuhkan adalah bukti nyata. Dalam setiap
hubungan tentu akan ada drama. Tapi kamu mengharapkan akan minim drama di
usiamu yang sekarang.
Singkatnya, jika dia memang berniat
serius denganmu, dia harus siap ‘berlari lebih kencang untuk menuju
posisimu’, dan kamupun tentu rela mendampingi jatuh-bangunnya. Kamu sadar
bahwa ini semua adalah demi kita.
Tak bisa dipungkiri juga, usia reproduktifmu
pun menjadi momok yang membuatmu resah. Kamu jelas sadar bahwa tidak mungkin
menunggunya sekian tahun lagi hingga dia benar matang untuk meminangmu. Siapa sih yang tidak ingin menimang bayi-bayi lucu?
Kamupun begitu, apalagi di usiamu yang sudah cukup matang untuk berumah tangga.
Ditambah lagi, pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan yang rutin dilayangkan
oleh orangtuamu dan undangan-undangan pernikahan dari satu per satu temanmu.
Namun, hal tersebut tentu tidak
sesederhana itu jika pasanganmu adalah pria yang jauh lebih muda. Misal, kamu
yang sudah mapan, pendidikanpun sudah aman, sedangkan dia masih harus
menyelesaikan sekian puluh SKS lagi, lalu wisuda, mencari kerja, dan (Akhirnya)
melamarmu.
Di satu sisi, kamu tidak mau
menuntutnya karena kamupun sadar pernikahan bukanlah perkara sepele. Kamupun
tidak mau dia menikahimu karena terpaksa. Kamupun memiliki harapan akan
pernikahan yang memang didasari dari keinginan masing-masing, bukan terdesak
karena satu pihak.
Tapi di sisi lain, kamu juga resah
dengan rahimmu yang mungkin akan kehilangan fungsi maksimalnya jika dia terlalu
lama membuatmu menunggu. Walaupun kamu sadar dan sepenuhnya mengerti alasannya
membuatmu menunggu sekian lama. Di sanalah kamu dan dia harus benar-benar
berkompromi mengenai hal yang level seriusnya sudah tidak bisa dibawa santai
tersebut.
Hal itu bukan lagi tentang siapa yang
harus mengalah. Bukan tentang kamu yang harus rela mengorbankan tingkat
fertilitasmu yang akan menurun jika menantinya. Bukan pula dia yang harus
mengorbankan masa awal 20-annya lengkap dengan pola pikir dan sikap untuk lebih
dewasa beberapa tahun dari umur aslinya, demi membina biduk rumah tangga
denganmu.
Kalianpun harus ekstra bijak untuk
mencari jalan tengah akibat selisih usia tersebut. Ketika kalian harus
sama-sama mengalah, wajar jika hal ini terasa seperti momok menakutkan baginya.
Kamu harus ekstra siap dengan segala konsekuensi pasca-nikah. Lantaran ini
bukan hal mudah bagi seorang pria (Dalam hati terdalamnya, dia mungkin belum
sepenuhnya siap menjadi seorang kepala keluarga). Di sanalah peranmu untuk
menguatkannya selain meredam egomu untuk tidak berharap muluk pada pasanganmu
yang lebih muda.
Bahkan persepsi negatif juga sempat menjalar
dalam kepalamu, atau jangan-jangan dia cuma manfaatin duit kamu aja? Nah, karena lebih dulu lahir darinya, wajar jika kamu
lebih dulu wisuda dan mendapat panggilan kerja. Sementara dia masih harus
berjuang dengan tugas-tugas kuliahnya, atau bahkan PR di sekolahnya. Kamu sudah
mampu menghidupi dirimu sendiri dengan pundi-pundi yang mengalir setiap bulan.
Sedangkan dia masih menampungkan tangan pada uang saku dari orangtuanya.
Ini memang fakta yang pahit, jika
terkadang kamu akan merogoh sekian rupiahmu untuknya. Yah, karena kondisi
finansialnya belum setangguh kamu, dia masih sedang dalam proses untuk meraih
sukses yang telah kamu lalui beberapa tahun lalu.
Kamu mungkin mudah membelikannya
kemeja branded yang kelak dapat dipakainya saat kuliah. Namun,
dia membutuhkan waktu dan usaha lebih untuk menghemat uang jajannya, demi
sekadar membeli kado ulang tahunmu yang mungkin nominalnya tidaklah seberapa
bagi dompetmu.
Walaupun begitu, tetap saja
pemberiannya terasa begitu bermakna. Bukan tentang harga, tapi ada ketulusan di
dalamnya. Duh, makin cinta deh!
Kamu harus banget ekstra sabar meladeni emosi
dia yang kadang masih meletup-letup. Yah, namanya masih labil.
Dia mungkin belum mengerti bagaimana
stresnya ketika deadline pekerjaanmu semakin dekat, ketika
klien membuat ulah, atau bahkan ketika atasanmu menegurmu, dia tidak paham
bagaimana down-nya kamu. Sehingga sedikit-banyak berdampak pada
responmu membalas chat-nya. Dia hanya tahu bahwa ia diacuhkan
pacarnya. Lalu ngambek tak jelas yang akan menambah beban pikiranmu.
Beda ceritanya ketika dia tidak
mengangkat teleponmu dengan alasan main futsal, tugas pribadi yang
dikerjakan berjamaah hingga dini hari, dan hal-hal lazim lain yang dulu
kamu rasakan ketika berada di posisinya sebagai anak kuliahan.
Kamu pada akhirnya mengerti karena dulu begitu juga. Tapi, sayangnya dia
tidak mengerti bagaimana sadisnya dunia kerja, sementara kamu sudah paham
bagaimana rasanya menjadi dia dulu.
Dia mungkin tampak begitu santai, padahal hatinya berkecamuk.
Ada ketakutan yang tak terucapkan apabila kamu lelah dengan labilnya dan
berpaling pada pria yang lebih matang. Dia tidak ingin melepasmu, tapi dia
juga tidak ingin membuatmu menderita lebih lama dengannya. Begitupun denganmu,
kamu yang kadang tampak mendominasi baginya atau justru terkesan menyerah pada
keadaan, padahal itu adalah bentuk kepedulianmu terhadap kelangsungan hubungan
kalian.
Kalian memang tak seusia, tapi bukan berarti kalian tak
sesuai. Cinta beda usia tetap saja memiliki peluang untuk melahirkan
kenyamanan. Karena nyaman bukan soal usia tapi hati. Kalian akan belajar untuk
lebih saling memahami. Kamu belajar untuk lebih santai menyikapi hidup,
sedangkan dia belajar lebih serius menjalani hari demi masa depan. Karena tak
bisa disangkal pula, jarak usia memang memiliki peranan besar. Yah, walaupun
pada akhirnya Tuhan yang punya kuasa, setidaknya kalian telah berusaha
memperjuangkan cinta beda usia.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar